Hari ini aku sedang tidak ingin memasak
Tapi aku juga tidak dapat tidur
Ah, sudah cukup kenyang dan lelah untuk tidur
Menonton TV pun juga tidak berselera
Membaca buku apalagi
Karaoke hanya akan memperparah seraknya tenggorokanku
Dua hari yang lalu aku sudah merasakan ketidakberesan dalam perutku. Kupikir hanya dua hal sepele, makanan pedas dan bersantan yang kulahap tiga hari bertutut-turut sebelum akhirnya aku tersadar bahwa aku pengidap maag akut.
Sebenarnya, aku benci mengatakan hal ini, bahwa aku menderita suatu penyakit (maag) yang kata orang adalah penyakit orang gedean, penyakit stress ringan. Kadar enzim yang tidak seimbang dalam perutku memaksaku terus cegukan, bersendawa ringan, dan (lagi-lagi) mengunyah Mylanta. Tapi untunglah tidak terlalu parah, maksudnya aku tidak sakit kepala berat. Wah! Kalau itu sampai terjadi…aku harus memuntahkan sarapan pagiku.
Beberapa menit yang lalu, Klender diguyur hujan yang cukup deras. Kini, hujan telah reda dan hanya menyisakan basah dan sejuk. Aku keluar, (sepertinya itu kesempatan terbaikku) lalu memandangi tanaman depan rumah yang basah. Akh…untuk beberapa menit itu aku merasa berada di Kaliurang.
Ku tarik napas dalam-dalam dan bebas. Agak pening memang, selama ini hanya bernafas “sekedarnya” saja; biasalah…ketakutan manusia kota akan polusi yang siap menggerogoti paru-paru. Aku masih duduk di kursi merah di teras, masih tetap memandangi daun-daun yang basah. Sampai akhirnya cahaya matahari jam 3 sore ─yang akhirnya mampu menembus awan mendung─ memaksaku bangkit dan menyadarkanku kembali bahwa aku tidak sedang berada di Kaliurang.
Malaka Jaya, 20 Mei 2009 -14:20
kok sepi? kemana aja semua teman-teman vox-ku? pada menghilang pada ke lain hati ya????
TERIMA KASIH TUHAN, HARI INI HUJAN...
BEBERAPA hari ini kami menghemat air karena hujan belum juga turun. Aku sungguh tidak tega mendengar suara mesin pompa air otomatis meraung-raung sepanjang malam. Ia baru berhenti setelah air dalam bak penampungan benar-benar penuh. Celakanya, yang dipompa hanya udara, dan kalau pun ada kerikil kecil, mungkin akan terangkat juga, karena di dalam tanah, air benar-benar kering.
Yang dapat kami lakukan hanyalah menunggu hujan turun sementara kami menyiapkan ember-ember penampungan. Aneh memang, di kota se-modern Jakarta–untuk masalah air–tidak jauh berbeda dengan desa di ujung Kota Wonosari.
OH TERIMA KASIH TUHAN, HARI INI TIDAK HUJAN...
AKU yakin, di kota ini, HUJAN menjadi bulan-bulanan. Tidak turun hujan, salah. Turun hujan, lebih salah lagi. Sebenarnya yang salah hujan atau manusianya sih? Aku hanya bergumam dalam hati ketika hujan turun dengan derasnya saat itu. Dilema...dilema...pikirku. Jika sampai pagi hujan belum berhenti juga, terpaksa kami menggulung celana panjang atau mencincing rok kami, berkubang dengan air hujan dan air comberan yang bercampur dalam satu warna hitam.
—Terima Kasih Tuhan, Hujan Turun ataupun Tidak—
November 2008
Baru dua minggu di Jakarta, aku kok ya home sick...
pengen pulang ke Jogja...
di mana...
harga-harga masih manusiawi,
sopir bus masih santun di jalan raya,
akses informasi masih murah dan nyaman,
tapi ku harus bertahan...
meski sangu dari jogja makin menipis...
kuselipkan selalu rute jalur busway Trans Jakarta...biar nggak nyasar
kuhafalkan setiap daerah yang dilalui bus...
melintasi sepanjang Kali Pesing...
Kali yang kini lebih terlihat sebagai "saluran pembuangan oli bekas"
bagiku...kesabaran dan kebodohan
hanya dipisahkan oleh garis yang sangat tipis,
dan menunggu bisa berarti sebuah kebijaksanaan dan sebaliknya,
Orang-orang yang pernah bertemu, mengenal dan berbagi pengalaman denganku menilai aku termasuk orang yang sabar. Mereka sangat salut dan mengeluarkan pujian atas segala kesabaran yang pernah aku lakukan, setidaknya itu yang pernah mereka lihat, rasakan, atau dengar dari orang lain. Aku hanya tersenyum menanggapi segala pujian. Sesekali aku menyangkal; yang bagi mereka: sangkalanku hanyalah basa-basi semata. Tetapi entah mengapa jauh di dalam hati dan arti di balik senyumanku itu tersirat ejekan besar bagiku sendiri bahwa "aku tidak lebih dari orang yang bodoh". Aku justru merasa segala anugerah kesabaran yang diberikan mereka adalah suatu kesalahan besar dalam hidupku.
Menurut kalian, sebentar itu berapa lama? Atau mudahnya, berapa detik? Menit? Jam? Hari? Minggu? Bulan? Tahun? Abad? Jawaban yang pasti adalah: relatif. Mungkin bagi orang yang menganggapku orang tersabar di antara mereka, aku orang yang paling tahan menunggu sampai bertahun-tahun. Ada yang menganggap sebentar itu hanya dalam hitungan bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan ada pula yang menunggu hanya dalam per setengah detik. Jadi, dengan jawaban yang beragam itu berapa lama waktu yang kita habiskan untuk menunggu?
"Sebentar ya..."
Aku menunggu di loby kantornya. Sebelumnya, ia berjanji melalui sms akan menemuiku pukul 11 siang ini. Aku menepati. Pukul 11 kurang 10 menit aku sudah tiba dan (akhirnya) benar-benar berhasil menemuinya satu jam kemudian setelah ia mengucapkan kata-kata itu.
"Sebentar ya..."
Aku menunggu lagi untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu penting bagiku, tapi penting baginya. Aku menunggu di ruang tamunya. Ia berencana mengajakku ke suatu tempat yang baginya menarik. Aku tetap menunggunya meski jam yang dia janjikan sudah lewat empat puluh lima menit yang lalu. Sebelumnya ia memang mengatakan kata-kata ajaib itu, dan kemudian membuatku menunggu sampai ia benar-benar berhenti 'berdandan'.
"Sebentar ya..."
Lagi-lagi aku mendengar kata-kata ajaib itu. Kali ini aku menunggunya di sebuah tempat sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan. Tetapi ia yang mengajak pertemuan siang itu tidak juga datang. 30 menit sudah aku menunggu sambil menghabiskan makan siang yang kupesan. Ia kemudian datang, tapi tidak segera memulai pembicaraan yang seharusnya sudah dibicarakan 30 menit yang lalu. Ia justru memesan makan siang, menikmati, menghabiskan, bercanda dengan tanpa rasa berdosa, duduk tepat di hadapanku.
"Sebentar" memang kata-kata favoritnya. Sebenarnya ada banyak kata favorit lainnya seperti "nanti", "tunggu ya", " sebentar lagi", "iya, aku baru saja mau berangkat", "lima menit lagi deh", akh! dan masih banyak lagi. Apa yang aku lakukan? Menunggu dan menampakkan wajah bersyukur setelah ia akhirnya tiba. Seakan aku 'lupa' menghabiskan bergelas-gelas air teh selama berjam-jam menunggunya, menghabiskan makan siang untuk ke dua kalinya, memijit tombol hp ku untuk mengecek pesan-pesan lama di kotak pesan berulang kali, menulis lembar-lembar buku harianku yang selalu ada di tas ranselku, tersenyum dan mempersilahkan tiap 10 menit orang yang selalu berganti untuk makan satu meja denganku,jika aku beruntung, mengobrol dengan beberapa teman, dan seterusnya.
Jika aku menunggu dan (dengan sangat terpaksa) menampakkan wajah bahagia, bersyukur, lega, dan mengucapkan "akhirnya", ketika ia tiba, bagaimana dengan dia? Macam-macam, pernah dia datang dengan tergopoh-gopoh menghampiriku, memasang muka bersalah, menyesal, dan berdosa telah 'menelantarkanku' lalu bilang "Sori..aku: (1) terlambat, (2) tadi ada masalah di jalan, (3) kendaraanku mogok, (4) tiba-tiba ada tamu, (5) aku harus mengantar di anu dulu, (6) aku baru bangun, (7) tadi ketiduran, (8) tadi aku pusing, (9) ada yang ketinggalan, (10) aku nunggu ini dulu, nunggu si anu dulu, (11) lupa??, dan seterusnya. Tapi pernah juga dia datang benar-benar seperti orang yang datang tepat pada waktunya, tanpa memasang muka bersalah, menyesal dan berdosa, lalu bercanda denganku seakan aku baru tiba juga, seakan ia tidak melihat gelas-gelas yang telah habis isinya di atas meja, seakan aku sudah terbiasa dengan berbagai alasan keterlambatan yang pernah dibuatnya. Pernah juga ia justru marah, memojokkanku, seakan aku telah melakukan tindakan yang haram baginya: ontime.
Awalnya, aku menanggapi alasannya dengan simpati, dan terkadang sampai sekarang pun aku tetap menanggapi setiap alasan yang ia buat dengan simpati, kadang aku hanya menanggapi dengan ber-ohh saja. Baginya, itu sinyal bahwa segala alasan dan apologinya d-i-t-e-r-i-m-a dan d-i-m-a-a-f-k-a-n. Entah mengapa aku termasuk orang yang penuh dengan pemakluman-pemakluman yang sebenarnya hanya boleh diberikan jika alasannya logis, mendasar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tapi aku? Aku tidak peduli dengan alasannya, aku tidak peduli dia berbohong atau tidak, Tuhan saja bisa memaafkan, kenapa aku tidak? Bayangkan jika aku menjadi dirinya? Dan memang aku juga pernah mengalami hal yang sama dialaminya. Siapa yang mau tiba-tiba motor mogok, jalanan macet, tiba-tiba ada masalah ini itu, kalau sudah lupa juga mau bilang apa? Yang terpenting apa yang telah disepakati akhirnya bisa terlaksana, meski harus mengorbankan waktu, uang, dan perasaan.
Meskipun sebagian orang yang mengenalku menganggap aku adalah orang tersabar di antara mereka, tapi tidak untuk temanku yang satu ini, yang segera meninggalkanku setelah menunggu dan duduk bersamaku hanya dalam hitungan menit saja setelah yakin yang ditunggu tidak datang-datang. Temanku itu justru mementahkan anugerah kesabaran yang selama ini kusandang, bahwa kesabaran yang kulakukan menurut versi mereka adalah kebodohan.
"kau itu sabar atau bodoh sih?!"
Aku cukup terkejut mendengar perkataan temanku itu ketika kami sedang menunggu orang yang mengharamkan ontime itu pada menit ke lima. "apa maksudmu?" Temanku itu beranjak, memasukkan buku agenda yang sedari tadi di up-date ke dalam tas ranselnya dan pergi begitu saja meninggalkanku tanpa menjelaskan apa-apa. Pikirku, kenapa dia tidak bersabar sedikit saja sampai yang ditunggu datang?
Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan itu hal itu, bahkan sebelum temanku melontarkan perkataan itu: apakah aku bodoh? Menunggu dan menunggu lagi? Sejujurnya aku sangat berterima kasih atas perkataan temanku yang menurutku jujur. Ya aku mulai berpikir kembali, apakah kesabaranku itu anugerah? Atau kesalahan besar dalam hidupku?
Aku beranjak, mengejarnya, menarik tangannya dan menyuruhnya kembali. Temanku berontak, berusaha melepaskan pegangan tanganku, dan menatapku dengan tajam.
"maaf, aku tidak bermaksud memaksamu,aku hanya ingin kau menunggunya sampai ia datang,"
"kenapa?"
"karena setiap pertemuan yang dilakukan kau belum pernah satu kali pun bertemu dengannya kan? Kau memutuskan pergi begitu saja setelah yakin bahwa dia akan terlambat, kenapa tidak bersabar sedikit saja? Kau benar-benar tidak peduli dengannya! Kenapa kau tidak menemuinya dan mengatakannya langsung padanya?!" aku sedikit berteriak. Temanku itu tersenyum kecil,
"peduli? Apa yang kau tahu tentang peduli? Duduk berjam-jam menunggu, setelah dia datang kau langsung menampakkan wajah bahagiamu? Lalu mendengarkan alasan-alasan basinya? Mendengarkan cerita-cerita tentang bagaimana dia akhirnya bisa beralasan seperti itu? Kau memaafkannya begitu saja padahal dia sama sekali tidak pernah meminta maaf atas segala keterlambatan yang dia lakukan. Apa itu namanya peduli? Apa kamu nyaman seperti itu?"
"iya! Aku masih mending dibandingkan kamu. Setidaknya aku tidak mengecewakannya, setidaknya perjuangannya untuk menepati janjinya tidak sia-sia, setidaknya aku pernah mengalami hal yang sama sepertinya, ketika dunia tidak memihaknya saat itu!"
"ha..ha..ha...kau tidak jujur! jika aku seperti dia, atau bahkan menjadi dia sekalipun, aku tidak akan mengulangi keterlambatanku berulang kali. Dan kau tahu? Justru aku peduli terhadapnya, aku menyayanginya."
"lalu kenapa kau meninggalnya?"
Temanku menatapku tajam, memegang erat kedua pundakku. Mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"karena jika aku tidak pernah meninggalkannya, ia tidak akan pernah belajar..."
Aku terbangun setelah sayup-sayup mendengar seseorang memanggil-manggil namaku. Aku agak terkejut setelah mengetahui di hadapanku sudah ada dia, orang yang sedari tadi kutunggu.
"akh, kau tertidur lagi ya? Pulas sekali, maaf ya!"
"jam berapa sekarang?" kataku sambil membenahi posisi dudukku.
"jam dua lebih 10 menit." Katanya sambil melihat jam tangannya.
"oh, kau terlambat lagi, kali ini 45 menit."
"sori...tadi aku.."
"tak perlu kau jelaskan!" aku sedikit berteriak. Ia menatapku heran.
Tiba-tiba aku ingat temanku yang entah sekarang ada di mana.
"oh ya mana temanku itu? Apa dia sudah pergi?"
"temanmu? Siapa?"
"ya yang kau undang juga lah! Kita kan janji disini bertiga."
"kau itu bagaimana sih? Aku cuma ingin bertemu denganmu saja, dari dulu kan selalu berdua. Dia itu siapa?"
"aku yakin dia kau undang juga, buktinya setiap aku menunggumu, ia juga menunggumu, tapi ia selalu pergi sebelum kau datang, karena ia tidak mau mengorbankan agenda-agendanya yang lain."
"tunggu, aku tidak mengundang selain kamu. Dia itu siapa?"
Aku terdiam, mencoba mengingatnya, namanya, penampilannya, apapun itu.
"aku...tidak tahu siapa dia, namanya pun aku tidak tahu. Tapi dia sangat dekat denganku sampai aku tidak perlu menanyakan namanya dan segala identitas yang ia punya." Aku merasa bingung. Aku merasa baru saja aku berbicara, bertengkar, dan mulai memahaminya. Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa pusing.
"akh! Kau mungkin hanya bermimpi," katanya. "oh ya kau sudah makan? Aku pesan makanan dulu ya,"
Aku diam, tidak menanggapinya. Aku masih di hadapannya, masih menunggu apa yang ingin dia katakan siang ini, aku masih tetap diam. Melihatnya masih asyik menyantap makan siangnya yang terlambat itu. Sesekali ia menanyaiku "kenapa diam saja? Kau tidak seperti biasanya". Tapi aku tidak menjawab. Aku tetap mengamatinya menikmati makan siang dan ia bercerita tentang "hari ini dunia tidak memihakku lagi," ia merasa aneh denganku, dengan sedikit tegas, ia menanyakanku lagi," kenapa kau ini? Kau marah?hei katakan pada ku! Kenapa kau dari tadi diam saja hah?!"
Aku menatapnya tajam, beranjak dan meraih tas ranselku.
"jadi benar apa yang temanku katakan tadi...kau tak pernah belajar menghargai waktu!"
"hei apa maksudmu?" ia beranjak juga.
"aku pergi! Aku tidak akan pernah meninggalkan agendaku selanjutnya yang selama ini kucoret karena selalu menunggumu!" aku melangkah meninggalkannya.
"hei tunggu! kita belum bicara!"
Aku berbalik dan melihat gurat keheranan di wajahnya.
"oh ya! Jangan lupa kau bayar makan siangku selama aku menunggumu tadi!"
aku berbalik dan Aku memacu langkahku. Entah mengapa langkahku terasa ringan kali ini.
Bus yang membawaku berhenti menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau kembali. Aku memandang deretan orang-orang yang berjalan di trotoar. Sekilas aku melihat seseorang bersandar di tembok di antara lalu lalang para pejalan kaki. Aku menyipitkan mata, meyakinkan bahwa aku melihat temanku tadi, aku hendak memanggilnya. Tapi tidak! Dia bukan temanku! Aku tidak percaya, ia mirip sekali denganku, ia masih berdiri di sana, tersenyum ke arahku. Masih tetap menatapnya, aku mencoba turun dari bus tapi lampu sudah kembali hijau, aku menatapnya, ia masih tersenyum, bukan senyuman mengejek, aku tahu itu. Aku masih menatapnya sampai ia menghilang di antara lalu lalang pejalan kaki.
Zippy blue box, Agustus 2008
Aku jadi teringat perkataan Hanung Bramantyo dua tahun silam di bulan Agustus,
sekaligus pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu aku masih sekolah dulu.
Hanung Bramantyo, yaitu ketika aku menghadiri diskusi film dengan beliau sebagai salah satu pembicaranya. Ketika sesi tanya-jawab, ada salah seorang peserta yang mengomentari salah satu film garapan sutradara itu tidak sebagus novel dengan judul sama yang dibacanya. Alasannya: cerita yang di film tidak selengkap apa yang ada di novel. Dengan tersenyum kecut (mungkin sedikit menahan tawa dan mangkel kali ya), Hanung menanggapi," Anda salah jika membandingkan film saya dengan novel. Itu jelas berbeda, cara membuatnya saja sudah beda, bentuk yang dihasilkan dan cara menikmatinya juga beda. Membandingkan ya novel dengan novel, film ya dengan film,"
Nah, ingatanku kembali lagi yaitu ketika aku berusaha memahami apa itu perbandingan dan perbedaan sewaktu sekolah dulu. Dua hal yang sungguh berbeda sebenarnya (baik tulisan maupun artinya), tetapi kadang menjadi salah kaprah ketika terjun ke obrolan masyarakat umum. Kenapa?
Untuk mengawali, mari kita menyempatkan diri membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia lalu mencari arti banding dan beda. Banding: persamaan, tara, imbangan; membandingkan: dua benda untuk mengetahui persamaan atau selisihnya; perbandingan: perbedaan (selisih) persamaan. Artinya, jika kita ingin membandingkan, berarti memberi nilai terhadap dua atau lebih hal yang sama. Gampangnya, membandingkan novel A dengan novel B, film A dengan film B, atau menilai dua hal yang berbeda dengan melihat persamaan-persamaan yang dimilikinya.
Sementara beda: sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dengan yang lainnya; perbedaan: beda, selisih, perihal yang berbeda; membedakan: menyatakan ada bedanya, memperlakukan tidak sama, memisahkan. Katakanlah film A dengan novel A, meskipun judulnya sama seperti Film Ayat-Ayat Cinta dan Novel Ayat-Ayat Cinta, tetapi antara novel dengan film tetap saja berbeda. Jadi, aneh ketika mengatakan novel lebih bagus daripada film dan sebaliknya dengan alasan: di novel ceritanya lebih lengkap, detail, emosinya ada, konfliknya seru, sementara di film, tidak lengkap, ada adegan yang dipotong, pokoknya yang jelas tidak sama dengan apa yang ada di novel itu (well, suka atau tidak itu masalah selera to? Sah-sah saja sebenarnya). Tetapi, coba pikir, itu bukannya membandingkan, tetapi sudah membedakan, (alasan-alasan itu justru lebih cocok sebagai jawaban untuk pertanyaan: apa perbedaan antara novel A dengan Film A?).
Kembali ke kasus 'adaptasi' novel ke dalam bentuk film dan sebaliknya: Ya iyyalaaah.....di novel, pengarang bebas bercerita dengan imajinasi terliar mereka. Misalnya settingnya awalnya di Indonesia lalu pindah ke Mesir, Arab, China, Afganistan, Amerika, Utopia, Sungai Amazone lengkap dengan piranhanya, kembali lagi ke Indonesia, lalu ke kutub utara, terbang ke bulan, terserah si pengarang. Ketika novel yang penuh dengan berbagai imajinasi liar pengarangnya itu difilmkan, sutradara dibantu crew film lainnya (astrada, penulis skenario, woredrop, kameramen, dan lainnya)-lah yang bertugas 'menerjemahkan' tulisan ke dalam bentuk audio-visual. Dalam bentuk tulisan, oke lah setting bisa berpindah seenak udel pengarangnya, tapi tidak untuk film, semua, mulai dari setting, plot,alur, dan lainnya ada batasnya. Ya (di)batas(i) biaya, waktu, tenaga,peralatan, situasi ekosospolbudkum dan lain sebagainya yang bersifat teknis maupun non teknis (seperti ide).
Bukan hal mudah menerjemahkan cantik di novel ke dalam film (audio-visual). Contohnya, di novel, pengarang mendeskripsikan perempuan cantik itu adalah perempuan dengan mata meski tegas tapi terasa lembut dan teduh, senyuman secerah mentari, tersembunyi wibawa di balik lekuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Nah lo, sutradara harus mati-matian memutar otak untuk menentukan siapa artis yang mampu mewakili deskripsi si pengarang novel itu, berkualitas aktingnya, sekaligus populer di mata masyarakat (karena menentukan laris tidaknya film yang dibuat). Sayangnya, cantik baginya belum tentu cantik bagi si pengarang, dan cantik bagi pengarang belum tentu sama dengan cantik bagi penonton,bingung too?!
So, jangan terburu-buru mengatakan," Payah! Filmnya nggak sekeren, seasyik, sebagus novelnya," Apalagi di hadapan sutradaranya...(jika sutradaranya paham apa itu beda dan banding) yang ada malah si penanya diketawain abis-abisan atau dilempar asbak! ha..ha..ha..
Zippy Blue Box, 6 Agustus 2008
heee numm...., aku kesasar ni...., gk sengaja jadi gabung ke blog ini. tapi aku gk begitu dong...., ajarin aku ya...!... read more
on Journey cover